Pagi
itu udara sangat dingin,langit pun mulai gelap.nampaknya hujan akan
turun.ku tarik kembali selimut kesayanganku,menutupi tubuh yang rasanya
sudah akan membeku.
‘’chika bangun’’terdengar suara mama membangunkanku.
‘’Lima menit lagi yah maa..,’’gumah ku sambil mulai memejamkan mata.
‘’chika…,cepatan bangun,bantu mama’’kembali teriakan mama terdengar.
dengan malasnya ku buka selimutku ,kaki terasa berat meninggalkan
tempat ini,tapi kasihan mama pasti sudah sangat kerepotan,mumpum hari
ini libur aku harus membantunya.ku usap mataku,sambil berjalan ke kamar
mandi.saat turun dari kamar,ku lewatin kamar papa,ku tengong kedalam
karena pintunya sedikit terbuka,sekilas aku melihatnya mengigil..,
‘’papa kenapa??’’kok mengigil begitu?’’tanyaku dengan rasa khawatir.
‘’iya nak,tolong selimutin papa yah’’
Ku ambil selimut di lemari besar,ku selimuti sekujur tubuh papa,sambil memijitnya,ku harap itu sedikit menghangatkannya.
‘’papa tunggu sebentar yah,aku cuci muka dulu,nanti ku ambilkan minyak angin’’ujarku sambil berlalu meninggalkannya.
Setelah kembali ke kamar mandi,aku masuk ke kamar papa,ku lihat
tubuhnya masih gemetar menahan rasa dingin,baru kali ini aku melihat
papa sedingin ini,cuaca di luar memang sangat dingin tapi aku tidak
merasa sedingin papa.ku duduk di samping tempat tidur,ku usapkan minyak
angin itu ke kakinya,telapak kakinya dingin sekali,aku merasa khawatir
sama papa.
‘’makasih nak,maafin papa yahh suudah merepotkannmu’’.ucap papa dengan suara yang gemetar,menahan dingin.
‘’iya pa..,inikan emang kewajiban ku merawat papa,gak ngeropotin kok,tenang aja’’hiburku.
Ku lihat papa memejamkan mata,menahan air matanya agar tak terlihat
olehku.ini pertama kalinya aku melihat papa meneteskan air mata,tanpa
sadar air mataku pun ikut jatuh.lekas ku usap mataku,berharap papa tak
melihatnya.
‘’bagaimana pa..,masih dingin??’’tanyaku
‘’masih tapi sudah tidak sedingin tadi..,’’suaranya begitu pelan
Yah udah kalau begitu saya usapin ke punggung papa juga biar lebih hangat,ucapku.
***
‘’Chika tolong ambilin mangkok di dalam’’terdengar suara mama memanggilku.
‘’iya ma..,tunggu sebentar’’ucapku sambil berlalu keluar kamar,tiba-tiba mama muncul.
‘’papa kamu kenapa??’’mama baru sadar melihat papa yang memakai selimut setebal itu.
‘’papa kedinginan,gak tau tadi pas chika bangun tiba-tiba udah
begini,papa minta di selimutin’’ujarku lalu aku pergi ninggalin mama ke
belakang mengambil mangkok yang di suruh mama.
‘’papa sudah mau makan,mama suapin yah??’’tanya mama
papa hanya menggeleng-geleng,menandakan ia tak mau.
Papa sejak tadi belum makan apa-apa,udah siang loh,entar lagi waktunya minum obat.
Mama berusaha membujuk papa,tapi papa tetap tidak mau makan.
Dengan rasa kecewa mama keluar ninggalin papa,dan kembali melanjutkan masakannya.
Aku kembali masuk ke kamar papa,ku coba membujuknya untuk makan
‘’pa.., makan dulu yah?udah jam segini papa belum makan apa-apa loh’’bujukku
‘’sekarang jam berapa??’’tanya papa
‘’udah jam 11 pa..,kenapa?’’tanyaku balik
‘’papa belum mandi,mau mandi tapi dingin’’ucapnya
‘’gak usah mandi pa,ganti baju aja’’
Lalu ku ambilkan baju biru kesayangannya,ini papa ganti dulu.ku tinggal papa di kamar dan kembali menemui mama.
‘’Gimana keadaan papamu?masih menggigil’’tanya mama dengan wajah khawatir.
‘’iya maa..,tumben papa sedingin ini,kemarin-kemarin gak pernah gitukan??
‘’iya mama juga heran,mudah-mudahan papa mu baik-baik saja’’sambil mengusap matanya.
Ku lihat mama menangis,tapi dia berusahaa tidak menunjukkannya padaku.
ku pergi meninggalkan mama,kembali ke kamarku.
Di dalam kamar aku bertanya-tanya,ada apa ini?kenapa mama dan papa
menangis?kenapa dengan papa,papa akan baik-baik aja kan?aku tau saat ini
papa memang sakit,sudah 2 bulan papa tinggal di rumah,sejak papa di
nyatakan mengidap penyakit lever,sejak itu mama melarang papa kerja,mama
ingin papa di rumah untuk di rawat,karena papa tak ingin nginap di RS.
Selama 2 bulan papa melakukan perawatan,berobat ke sana
kemari,mulai dari yang medis sampai non medis sudah papa tempuh,hasilnya
nihil.semakin hari semakin kurus saja ku lihat papaku ini,saat ku
pegang pergelangan tangannya,hanya ada tulang dan kulit.ingin ku
menjerit melihat semua ini,aku tak sanggup menghadapi kemungkinan yang
kan terjadi.
‘’chika tolong bantu mama’’terdengar teriakan mama
ku selah air mataku,sambil berlari ke kamar papa.
ku lihat mama berusaha memopah tubuh papa,adikku pun ikut membantu.
ku coba memengang pergelangan tangan papa,membantunya berdiri tapi
tenaga kami tidak mampu mengangkat tubuh papa,sepertinya papa
benar-benar tidak bisa menggerakkan badannya.
Ku coba minta tolong pada pamanku,kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumahku.
Ku lihat mata mama memerah,kali ini ia tak bisa menyembunyikan
kesedihannya.pamanku membantu papa ke kamar mandi,lalu kembali
membawanya ke kamar.
‘’mama mulai panik,ia pun menghubungi beberapa sanak keluarga.
Ku duduk di samping papa,ku ajak berbicara.namun hanya gelegan dan anggukan.sepertinya papa sangat sulit berbicara.
‘’pa..,ini minum dulu,biar tenggorokannya gak kering’’ku tuangkan
air itu di sendok,sedit-demi sedikit ku sendokkan ke mulut papa,sangat
sulit rasanya papa menelan air itu.
‘’papa baik-baik aja kan??bagaimana perasaan papa??tanyaku panik
‘’dia tak menjawab,matanya terpejam’’
Sekali lagi ku Tanya papa,ia tak menjawab..,
‘’paa..,paa kenapa?tanyaku lagi
‘’ku lihat papa membuka mata,menjawabku dengan suara yg tak begitu jelas’’
Tapi aku bisa membaca dari isyarat gerakan tangannya.
‘’nak jangan Tanya-tanya papa dulu,tenggorokan papa sakit’’
Ku berlari ke kamar mandi,tidak sanggup aku membendung air mata
ini,ku tumpahkan semua tangisanku,ku nyalakan kerang air agar tak ada
yang mendengar .
Tuhan..,ku mohon sembuhkan papa,aku tak sanggup
melihat papa seperti ini,kuatkan aku.ku sela air mataku,kembali ku
temui papa.
***
Sudah 2 hari papa tak sadarkan
diri,malam itu suasana di rumah mulai rame,sahabat dan kerabat mulai
berdatangan ikut mendoakan kesembuhan papa.aku tak pernah jauh dari
papa,adik2 ku pun ikut menemani,mereka semua membacakan yasin di dekat
papa.sesekali aku berlari ke kamar mandi,aku tak sanggup menyaksikan ini
semua.
Jam 12 lewat 10 menit,suasana semakin hening,beberapa
keluarga sudah ada yang kembali ke rumah masing-masing,beberapa juga
masih di rumah.semua berkumpul di dekat papa,inilah detik-detik maut
menjemput,ku lihat pamanku mulai mewudhui papa,lalu menuntunnya.suasana
semakin hening…,
‘’Innalillahi wa innailahi rojiun’’terdengar suara pamanku.
Ku sandarkan kepalaku di pundak mama,aku tak bisa memendung
kesedihanku,ku lihat mama pun begitu,namun ia tampak lebih kuat dari
aku,mama memelukku berusaha menenangkanku,ku lihat adikku menangis di
bawah kaki papaku.
***
Minggu,3 Juli 2011
Semua orang berdatangan,keluarga,sahabat tetangga.
ku pandangi sosok tubuh yang terbaring tak bernyawa ,sosok ayah
yang telah menemani hidupku kini berbaring di hadapanku,ku peluk sekali
lagi,ku kecup dahinya,sebelum ia di mandikan.tak sanggup aku menyaksikan
ini,air mataku tumpah tak terbendung lagi.
Badanku terasa lemas,tapi aku tetap nekat ingin mengantarkan papa ketempat peristirahatan terakhirnya.
Saat tiba di pemakaman,ku lihat seorang gadis menangis
histeris,berusaha menahan jenazah yg akan di masukkan ke liang
lahat.kebetulan makamnya bersebelahan dengan makan papa.
‘’aku
tau kesedihan yang kami rasakan sama,kehilangan orang yang kita
cinta.tapi aku yakin dengan nangis sehisteris itu tidak bisa
mengembalikan mereka malah hanya menghambat kepergiannya.aku hanya bisa
menangis,mengeluarkan air mata tanpa suara.
‘’Selamat jalan
Ayah,doa ku mengiringi kepergianmu..,Terima kasih atas cinta yang kau
beri selama 20 tahun ini,walau ini sangat berat tapi aku akan berusaha
untuk mengikhlaskan kepergianmu.maafkan aku ayah jika selama hidup
ayah,aku selalu menyusahkan ayah,aku belum bisa membahagiakan ayah
seperti anak-anak lainnya.Tapi aku janji ayah,suatu saat nanti aku akan
membuat ayah bangga padaku,akan selalu ku ingat pesan ayah,untuk selalu
menjadi orang yang sabar.’’
Kaki ku semakin lemas,tak mampu menahan tubuhku,aku pun terjatuh tak sadarkan diri.