Kamis, 02 Januari 2014

Maafkan Aku Ibu

Ibu
Maafkan anakmu
hari ini kami membuat satu kesalahan lagi..,
kesalahan yang mungkin membuat hatimu terluka

Ibu..,
Senyummu mungkin bisa menyembunyikan kekecewaanmu
tapi matamu,tak bisa menutupi itu semua
ku tau kau berusaha menahan air mata itu agar tak jatuh..,,

Maafkan kami Ibu
kami selalu mengecewakanmu..,
membuatmu sedih dengan setiap kata-kata yang kami lontarkan
tak sedikit pun kebanggaan yang kami berikan untukmu..,,,
Namun kau tak pernah menunjukkan kekecewaan itu pada kami

Tak ada yang bisa menggatikanmu,Ibu
Di setiap Doa selalu kau lontarkan nama kami
Semua yang terbaik kau tujukan untuk kami
menjadi anak yang sholeh,sukses dan Bahagia Dunia Akhirat

Ibu..,
aku tak pernah menyesal terlahir di rahimmu
krn kaulah sosok ibu terhebat yang ku punya
kau mampu menjadi ibu sekaligus ayah buat kami
membiayai hidup kami,lalu apa balasan kami

Ibu
sekali lagi maafkan kami..,


Selamat jalan Ayah

Pagi itu udara sangat dingin,langit pun mulai gelap.nampaknya hujan akan turun.ku tarik kembali selimut kesayanganku,menutupi tubuh yang rasanya sudah akan membeku.
‘’chika bangun’’terdengar suara mama membangunkanku.
‘’Lima menit lagi yah maa..,’’gumah ku sambil mulai memejamkan mata.
‘’chika…,cepatan bangun,bantu mama’’kembali teriakan mama terdengar.
dengan malasnya ku buka selimutku ,kaki terasa berat meninggalkan tempat ini,tapi kasihan mama pasti sudah sangat kerepotan,mumpum hari ini libur aku harus membantunya.ku usap mataku,sambil berjalan ke kamar mandi.saat turun dari kamar,ku lewatin kamar papa,ku tengong kedalam karena pintunya sedikit terbuka,sekilas aku melihatnya mengigil..,
‘’papa kenapa??’’kok mengigil begitu?’’tanyaku dengan rasa khawatir.
‘’iya nak,tolong selimutin papa yah’’
Ku ambil selimut di lemari besar,ku selimuti sekujur tubuh papa,sambil memijitnya,ku harap itu sedikit menghangatkannya.
‘’papa tunggu sebentar yah,aku cuci muka dulu,nanti ku ambilkan minyak angin’’ujarku sambil berlalu meninggalkannya.
Setelah kembali ke kamar mandi,aku masuk ke kamar papa,ku lihat tubuhnya masih gemetar menahan rasa dingin,baru kali ini aku melihat papa sedingin ini,cuaca di luar memang sangat dingin tapi aku tidak merasa sedingin papa.ku duduk di samping tempat tidur,ku usapkan minyak angin itu ke kakinya,telapak kakinya dingin sekali,aku merasa khawatir sama papa.
‘’makasih nak,maafin papa yahh suudah merepotkannmu’’.ucap papa dengan suara yang gemetar,menahan dingin.
‘’iya pa..,inikan emang kewajiban ku merawat papa,gak ngeropotin kok,tenang aja’’hiburku.
Ku lihat papa memejamkan mata,menahan air matanya agar tak terlihat olehku.ini pertama kalinya aku melihat papa meneteskan air mata,tanpa sadar air mataku pun ikut jatuh.lekas ku usap mataku,berharap papa tak melihatnya.
‘’bagaimana pa..,masih dingin??’’tanyaku
‘’masih tapi sudah tidak sedingin tadi..,’’suaranya begitu pelan
Yah udah kalau begitu saya usapin ke punggung papa juga biar lebih hangat,ucapku.
***
‘’Chika tolong ambilin mangkok di dalam’’terdengar suara mama memanggilku.
‘’iya ma..,tunggu sebentar’’ucapku sambil berlalu keluar kamar,tiba-tiba mama muncul.
‘’papa kamu kenapa??’’mama baru sadar melihat papa yang memakai selimut setebal itu.
‘’papa kedinginan,gak tau tadi pas chika bangun tiba-tiba udah begini,papa minta di selimutin’’ujarku lalu aku pergi ninggalin mama ke belakang mengambil mangkok yang di suruh mama.
‘’papa sudah mau makan,mama suapin yah??’’tanya mama
papa hanya menggeleng-geleng,menandakan ia tak mau.
Papa sejak tadi belum makan apa-apa,udah siang loh,entar lagi waktunya minum obat.
Mama berusaha membujuk papa,tapi papa tetap tidak mau makan.
Dengan rasa kecewa mama keluar ninggalin papa,dan kembali melanjutkan masakannya.
Aku kembali masuk ke kamar papa,ku coba membujuknya untuk makan
‘’pa.., makan dulu yah?udah jam segini papa belum makan apa-apa loh’’bujukku
‘’sekarang jam berapa??’’tanya papa
‘’udah jam 11 pa..,kenapa?’’tanyaku balik
‘’papa belum mandi,mau mandi tapi dingin’’ucapnya
‘’gak usah mandi pa,ganti baju aja’’
Lalu ku ambilkan baju biru kesayangannya,ini papa ganti dulu.ku tinggal papa di kamar dan kembali menemui mama.

‘’Gimana keadaan papamu?masih menggigil’’tanya mama dengan wajah khawatir.
‘’iya maa..,tumben papa sedingin ini,kemarin-kemarin gak pernah gitukan??
‘’iya mama juga heran,mudah-mudahan papa mu baik-baik saja’’sambil mengusap matanya.
Ku lihat mama menangis,tapi dia berusahaa tidak menunjukkannya padaku.
ku pergi meninggalkan mama,kembali ke kamarku.
Di dalam kamar aku bertanya-tanya,ada apa ini?kenapa mama dan papa menangis?kenapa dengan papa,papa akan baik-baik aja kan?aku tau saat ini papa memang sakit,sudah 2 bulan papa tinggal di rumah,sejak papa di nyatakan mengidap penyakit lever,sejak itu mama melarang papa kerja,mama ingin papa di rumah untuk di rawat,karena papa tak ingin nginap di RS.
Selama 2 bulan papa melakukan perawatan,berobat ke sana kemari,mulai dari yang medis sampai non medis sudah papa tempuh,hasilnya nihil.semakin hari semakin kurus saja ku lihat papaku ini,saat ku pegang pergelangan tangannya,hanya ada tulang dan kulit.ingin ku menjerit melihat semua ini,aku tak sanggup menghadapi kemungkinan yang kan terjadi.

‘’chika tolong bantu mama’’terdengar teriakan mama
ku selah air mataku,sambil berlari ke kamar papa.
ku lihat mama berusaha memopah tubuh papa,adikku pun ikut membantu.
ku coba memengang pergelangan tangan papa,membantunya berdiri tapi tenaga kami tidak mampu mengangkat tubuh papa,sepertinya papa benar-benar tidak bisa menggerakkan badannya.
Ku coba minta tolong pada pamanku,kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumahku.
Ku lihat mata mama memerah,kali ini ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya.pamanku membantu papa ke kamar mandi,lalu kembali membawanya ke kamar.
‘’mama mulai panik,ia pun menghubungi beberapa sanak keluarga.
Ku duduk di samping papa,ku ajak berbicara.namun hanya gelegan dan anggukan.sepertinya papa sangat sulit berbicara.

‘’pa..,ini minum dulu,biar tenggorokannya gak kering’’ku tuangkan air itu di sendok,sedit-demi sedikit ku sendokkan ke mulut papa,sangat sulit rasanya papa menelan air itu.
‘’papa baik-baik aja kan??bagaimana perasaan papa??tanyaku panik
‘’dia tak menjawab,matanya terpejam’’
Sekali lagi ku Tanya papa,ia tak menjawab..,
‘’paa..,paa kenapa?tanyaku lagi
‘’ku lihat papa membuka mata,menjawabku dengan suara yg tak begitu jelas’’
Tapi aku bisa membaca dari isyarat gerakan tangannya.
‘’nak jangan Tanya-tanya papa dulu,tenggorokan papa sakit’’
Ku berlari ke kamar mandi,tidak sanggup aku membendung air mata ini,ku tumpahkan semua tangisanku,ku nyalakan kerang air agar tak ada yang mendengar .
Tuhan..,ku mohon sembuhkan papa,aku tak sanggup melihat papa seperti ini,kuatkan aku.ku sela air mataku,kembali ku temui papa.
***
Sudah 2 hari papa tak sadarkan diri,malam itu suasana di rumah mulai rame,sahabat dan kerabat mulai berdatangan ikut mendoakan kesembuhan papa.aku tak pernah jauh dari papa,adik2 ku pun ikut menemani,mereka semua membacakan yasin di dekat papa.sesekali aku berlari ke kamar mandi,aku tak sanggup menyaksikan ini semua.
Jam 12 lewat 10 menit,suasana semakin hening,beberapa keluarga sudah ada yang kembali ke rumah masing-masing,beberapa juga masih di rumah.semua berkumpul di dekat papa,inilah detik-detik maut menjemput,ku lihat pamanku mulai mewudhui papa,lalu menuntunnya.suasana semakin hening…,
‘’Innalillahi wa innailahi rojiun’’terdengar suara pamanku.
Ku sandarkan kepalaku di pundak mama,aku tak bisa memendung kesedihanku,ku lihat mama pun begitu,namun ia tampak lebih kuat dari aku,mama memelukku berusaha menenangkanku,ku lihat adikku menangis di bawah kaki papaku.
***
Minggu,3 Juli 2011
Semua orang berdatangan,keluarga,sahabat tetangga.
ku pandangi sosok tubuh yang terbaring tak bernyawa ,sosok ayah yang telah menemani hidupku kini berbaring di hadapanku,ku peluk sekali lagi,ku kecup dahinya,sebelum ia di mandikan.tak sanggup aku menyaksikan ini,air mataku tumpah tak terbendung lagi.
Badanku terasa lemas,tapi aku tetap nekat ingin mengantarkan papa ketempat peristirahatan terakhirnya.
Saat tiba di pemakaman,ku lihat seorang gadis menangis histeris,berusaha menahan jenazah yg akan di masukkan ke liang lahat.kebetulan makamnya bersebelahan dengan makan papa.
‘’aku tau kesedihan yang kami rasakan sama,kehilangan orang yang kita cinta.tapi aku yakin dengan nangis sehisteris itu tidak bisa mengembalikan mereka malah hanya menghambat kepergiannya.aku hanya bisa menangis,mengeluarkan air mata tanpa suara.
‘’Selamat jalan Ayah,doa ku mengiringi kepergianmu..,Terima kasih atas cinta yang kau beri selama 20 tahun ini,walau ini sangat berat tapi aku akan berusaha untuk mengikhlaskan kepergianmu.maafkan aku ayah jika selama hidup ayah,aku selalu menyusahkan ayah,aku belum bisa membahagiakan ayah seperti anak-anak lainnya.Tapi aku janji ayah,suatu saat nanti aku akan membuat ayah bangga padaku,akan selalu ku ingat pesan ayah,untuk selalu menjadi orang yang sabar.’’
Kaki ku semakin lemas,tak mampu menahan tubuhku,aku pun terjatuh tak sadarkan diri.